Syarat & ketentuan |Pedoman |Redaksi |Kontak Kami
Destinasi Bukittinggi
Secangkir Kopi Hangat dari Kafe Taruko Ngarai Sianok
Kamis, 12 September 2013 09:54 WIB

RANAHBERITA-- Dinding terjal Ngarai Sianok masih kukuh menyangga Bukittinggi. Di kaki lembahnya yang sering dihinggapi kabut, batang air mengular, menyusuri bekas patahan bumi berusia ratusan abad. Padi menguning di sela rumah gadang yang berbilang tahun lebih acap lengang.

Lukisan hidup itu terpatri. Menguras rindu siapa saja yang pernah menatapnya. Kini, pemandangan itu bisa Anda nikmati sambil mereguk hangatnya secangkir kopi dari pondok cantik beratap rumbia, Kafe Taruko.

Bangunan yang berdiri tunggal dalam radius 1 km ini hanya berjarak 4 km dari Simpang Empat Ngarai. Dari simpang itu turun ke bawah arah Ngarai. Setelah tikungan Anda akan melewati dua jembatan. Persis setelah jembatan kedua, ada jalan kecil ke arah kiri. Itulah jalan menuju kafe.

Menurut pemiliknya, Rakai (40), Kafe Taruko dikembangkan dengan konsep natural dan ramah lingkungan. "Kami bukan saja ingin membuat pengunjung dekat dengan alam tapi juga peduli dengan lingkungan," katanya kepada ranahberita.com, Rabu (11/9/2013).

Di bangunan klasik tersebut, pilihan menu cukup beragam. Anda bisa mereguk kopi bukik apik, hingga rasa espresso, asal Italia itu. Masyarakat setempat menamai kopi tanpa serbuk tersebut Kopi Taruko.

Bila cuaca panas, pengunjung bisa mencicipi jus buah bersama yogurt ala  Minang alias dadiah. Jus yang memang berbeda, rasa yogurt untuk semua jenis buah.

Hembusan angin sepoi-sepoi dari balik pepohonan nan hijau di lemah ngarai, akan mengundang rasa lapar. Ngopi atau ngejus tanpa kudapan bak Bukittinggi tanpa jam gadang. Lembaran menu menyuguhkan makanan berat hingga ringan mulai dari masakan tradisional Minang sampai ala Eropa.

Pecinta daging bebek, bisa menikmati gulai itiak lado mudo. Makan gulai itiak di bangunan panggung ini membuat pengunjung tahu bagaimana rasanya makan di pondok sawah seperti yang dirindukan banyak orang. Bagi yang terbiasa, menyantap pizza dan steak, kafe ini juga menyediakan.

Banyak lagi menu lainnya. Kunjungan pertama ke sana, akan menjawab segala tanya yang muncul setelah Anda membaca tulisan ini.

Selain minum dan makan, pengunjung yang berminat juga bisa menyaksikan secara langsung keahlian chef dalam meracik makanan.

Tak hanya itu, Anda juga bisa melihat kincir yang digunakan sebagai pembangkit listrik mikrohidro. Tak peduli dengan krisis listrik. Selagi sungai di sekitar mengalir, selama itu juga kincir berputar. Selama kincir berputar, selama itu juga dinamo produksi tenaga listrik melalui aki.

Karena itu, kafe yang dibuka sejak pukul 08.00 WIB hingga 18.00 WIB tidak bergantung pada aliran listrik Perusahaan Listrik Nasional (PLN).

"Kita nanti juga akan membuat sekolah alam. Sehingga pengunjung tahu bagaimana proses menggarap sawah dan berkebun. Karena taman kita terdiri dari sawah dan kebun," kata Rakai. (Raju Arafah/Ed1)


Komentar
Aditya Kusuma | Kamis, 12 September 2013 13:47 WIB

Kereeeeen.. Insya Allah kalau ke Bukittinggi akan mampir. Sekaligus bernostalgia saat ketek bamain di ngarai sianok..
M. Kahar Aidil. RD | Jumat, 13 September 2013 20:42 WIB

Tempatnya bagus...apalagi sore hari dan malam...sungguh suasana yang sangat susah untuk dituangkan dengan kata..namun sayang beberapa kai berkunjung ke sini, belum pernah bisa menikmati pagi, konon katanya embun pagi sampai ke tebing2 disekitarnya.

Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama:
Email:
Komentar:
×
Berita Lain