Syarat & ketentuan |Pedoman |Redaksi |Kontak Kami
Opini
Catatan 30-S dari Padang
Senin, 30 September 2013 21:51 WIB

RANAHBERITA--Merah putih berkibar setengah tiang, pemandangan yang lazim kita saksikan disetiap tanggal 30 September tiba. Sudah sejak zaman orde baru, kebiasaan tersebut menjadi penanda sejarah yang terjadi di tahun 1965.

Terlepas dari pro dan kontra, kontroversi sejarah yang belakangan coba direkonstruksi oleh banyak pihak, tetap belum bisa merubah apa-apa. Ibarat nasi sudah menjadi bubur. Gerakan 30 September pada 1965, telah terlanjur menjadi monumen dan momok tersendiri di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Kehadiran paham komunis waktu itu, telah diakhiri dengan catatan sejarah yang berdarah-darah.

Bagi Kota Padang, 30 September memiliki makna tersendiri, yang tak kalah meninggalkan trauma, terutama sejak tahun 2009. Lebih dari 1000 orang tewas akibat bencana gempa bumi. Dengan kekuatan 7,8 skala richter gempa tersebut juga telah memundurkan peradaban kota, sekian tahun ke belakang.

Kini, empat tahun sudah bencana itu tertinggal menjadi sejarah. Dan yang pasti, dampaknya telah merubah cara berfikir seluruh warga Sumatera Barat selama-lamanya, khususnya dalam menyikapi sebuah bencana. Salah satu perubahannya, Titik "nol kilo meter" Kota Padang hari ini dipindahkan ke Air Pacah.

Tanggal 30 September 2013, perhatian masyarakat Minang sedikit teralihkan dari sejarah. Sebab hari ini, perhatian masyarakat tertuju pada insiden yang menimpa mahasiswa Universitas Andalas, yang sedang berkegiatan di dalam organisai Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala).

Dari 8 orang yang ikut dalam kegiatan tersebut, 6 diantaranya hanyut disapu air bah di Sungai Patamuan sana. 5 orang yang hanyut telah ditemukan dalam keadaan tak bernyawa. Sedangkan 1 orang lagi, hingga tulisan ini diturunkan masih dalam proses pencarian.

Di masa lalu, 30 September adalah sejarah konflik manusia dengan paham dan ideologinya. Tapi hari ini, tren 30 September sedikit berubah. Bagi masyarakat Sumbar, 30 September telah menjadi pancang peringatan atau teguran dari alam, kepada manusia yang hidup di sekitarnya.

Dengan simpul logika yang sangat sederhana, jangan-jangan hutang peradaban manusia pada alam di masa lalu, kini sudah memasuki masa jatuh temponya. Dan karena manusia cenderung lupa, alam mulai mengirim sinyal untuk memperingatkannya. (Theo)


Komentar

Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama:
Email:
Komentar:
×
Berita Lain