Syarat & ketentuan |Pedoman |Redaksi |Kontak Kami
KTT APEC Bali
Izin Liputan 9 Wartawan Hong Kong di KTT APEC Bali Dicabut
Selasa, 8 Oktober 2013 17:48 WIB

RANAHBERITA--Sebuah insiden kecil terjadi di KTT APEC di Bali. Pemerintah Indonesia terpaksa mencabut izin peliputan 9 wartawan Hong Kong yang bertanya dengan berteriak-teriak kepada Presiden Filipina, Benigno Aquino, terkait kejadian di Filipina Pada tahun 2010 lalu yang mengakibatkan tewasnya warga Hong Kong.

Pencabutan izin tersebut diambil, setelah Aquino menilai sikap wartawan Hong Kong tersebut "sangat agresif".

Aquino menyatakan penyesalannya atas kejadian penyandraan di Manila yang menewaskan delapan warga Hong Kong. Pernyataan maaf tersebut dinilai tidak cukup oleh pemimpin Hong Kong.

Aquino menyampaikan pernyataannya pada pertemuan dengan Kepala Eksekutif Hong Kong Leung Chun-ying selama 30 menit pada Konferensi Tingkat Tinggi Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) 2013 di Bali, Senin (07/10/2013) kemarin.

"Sekali lagi, kami menyatakan penyesalan terdalam (dan berkata) bahwa hal itu sangat bertentangan dengan bagaimana kami memperlakukan para pengunjung di negara kami," kata Aquino kepada wartawan Filipina, menurut transkrip wawancara yang dirilis oleh kantornya, Selasa (08/10/2013).

Aquino mengatakan kepada Leung, bahwa permintaan maaf tersebut bukan berarti bahwa Filipina bersalah sebagai negara, sebagai pemerintah dan sebagai individu.

"Kami menyatakan, bahwa dari sudut pandang kami, ada satu pria bersenjata yang bertanggung jawab atas tragedi ini," kata Aquino.

Pada 2011, Aquino mengeluarkan pernyataan penyesalan serupa, namun bersikeras tidak akan ada permintaan maaf resmi yang akan disampaikan.

Ketika ditanya apakah Leung menerima penyesalannya, Aquino mengatakan 'kurang lebih demikian'.

Namun Leung memberikan penilaian kurang positif terhadap pembicaraan mereka. "Pihak Filipina sejak awal mengambil posisi bahwa masalah telah selesai. Saya tidak setuju,"
kata Leung kepada wartawan Hong Kong di Bali.

"Saya percaya, dan saya menganggap kasus seperti pandangan Filipina, bahwa masalah ini, kecuali diselesaikan dengan baik, akan terus menghalangi hubungan normal antara Hong Kong dan Filipina," ujarnya.

Hong Kong telah lama menuntut permintaan maaf resmi ditambah kompensasi untuk keluarga korban meninggal dan terluka. Seorang mantan polisi yang tidak puas membajak sebuah bus wisata, yang berisi wisatawan Hong Kong di Manila pada 2010, karena putus asa dan ingin mendapatkan kembali Pekerjaannya.

Setelah bernegosiasi, polisi menlancarkan serangan ceroboh yang menewaskan pria bersenjata dan delapan sandera berkewarganegaraan Hong Kong. Sementara 7 korban lainnya terluka.

Pada Agustus, korban selamat dan kerabat dari korban meninggal, menggugat pemerintah Filipina di pengadilan Hong Kong untuk menuntut kompensasi dan permintaan maaf resmi.

Insiden ini membuat marah Hong Kong, wilayah yang juga dijadikan tempat mencari nafkah bagi 250.000 Imigran asal Filipina.

Pemerintah Hong Kong terus memperingatkan warganya agar tidak berpergian ke Filipina (Ant/Ed10).

 


Komentar

Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama:
Email:
Komentar:
×
Berita Lain