Syarat & ketentuan |Pedoman |Redaksi |Kontak Kami
Aparatur Negara
Kisah PNS yang Dipecat Gara-gara Pacaran Saat Nyetir
Minggu, 27 Oktober 2013 17:38 WIB

RANAHBERITA--Nasib sial menimpa seorang oknum Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang berprofesi sebagai guru. Alih-alih hendak memadu kasih dengan sang murid saat berkendara, guru ini justru ditangkap polisi. Ia pun harus rela dipecat dari institusinya.

Peristiwa itu terungkap dalam sidang Badan Pertimbangan Kepegawaian (Bapek) yang dipimpin Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB), Azwar Abubakar, Kamis (24/10/2013) seperti dilansir situs Kementerian PANRB.

Berdasarkan penjelasan pelaku yang tidak disebutkan namanya tersebut, kejadian bermula saat sang guru mulai memendam rasa pada muridnya yang masih dibawah umur ini. Dengan telaten, pelaku berhasil memperdaya korban di sebuah hotel. Tak puas sampai disitu, pada kesempatan lain ia pun melanjutkan aksinya mengajak korban ke luar kota dengan dalih akan mengikuti sebuah lomba.

Di tengah jalan guru ini tak mampu lagi menahan hasratnya. Ia mulai menjamah tubuh korban sambil terus menyetir mobil miliknya.

Naas, pelaku kaget melihat polisi tengah melakukan razia kendaraan bermotor. Saking kagetnya, mobil yang ia kendarai menabrak sebuah angkutan umum yang tepat berada di depannya.

Kejadian tersebut sontak mengundang keramaian, orang-orang di sekitar kejadian pun mengerumuni tabrakan. Polisi yang tengah menggelar razia pun tak ketinggalan dan langsung menangkap pelaku yang sedang sibuk merapikan kembali pakaiannya.

Hal tersebut menimbulkan tanda tanya besar bagi polisi dan warga yang melihat tabrakan tersebut. Akhirnya pelaku dan selingkuhannya digelandang ke kantor polisi. Dari sinilah terkuak ulah sang guru. Berdasarkan penuturan korban, ia dibohongi pelaku dengan alasan akan mengikuti lomba di kota lain. Dari situlah kemudian PNS ini dimejahijaukan dan berbuntut dengan pemecatan sebagai PNS.

Sebenarnya, Pejabat Pembina Kepegawaian (PPK) memberikan sanksi pemberhentian dengan hormat atas permintaan sendiri (PDHTAPS). Namun sidang Bapek memutuskan, sanksi terhadap PNS yang melakukan perbuatan zina ataupun perselingkuhan itu diperberat menjadi pemberhentian tidak dengan hormat (PTDH).

Ada juga PNS yang diberhentikan karena tindakan asusila. Hal ini dialami dua PNS yang bekerja di instansi yang sama. Semasa sekolah, keduanya pernah menjalin asmara. Tapi  setelah menjadi PNS, mereka menikah dengan pasangan masing-masing.

Kejadian itu berlangsung di rumah PNS perempuan, sewaktu suami terlambat pulang dan tidak bisa mengantar istrinya. Peristiwa itu dipergoki oleh pembantu dan melaporkan kejadian tersebut kepada suami pelaku, lantas suaminya pun melaporkannya ke atasan sang istri. Laporan ini ditindaklanjuti, dan berujung pada pemberhentian kedua pelaku yang kepergok ketika menikmati nostalgia masa sekolahnya.

Ada lagi kasus yang diperberat hukumannya, yakni kasus pemakaian narkotika yang dilakukan 3 PNS berpangkat IIb,IIa, dan IIIa. Menurut Azwar, kasus pemakaian narkotika ini tidak bisa diampuni, karena PNS seharusnya menjadi teladan masyarakat.

Dalam sanggahannya ketiga PNS tersebut meminta agar kasusnya diperingan. Alasannya, seorang pemakai seharusnya dimasukkan ke panti rehabilitasi bukan dipecat. Akan tetapi Menteri PANRB menolak permohonan tersebut, apalagi ketiga PNS tersebut bekerja di instansi penegak hukum. (Novia Amirah)

 




Komentar

Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama:
Email:
Komentar:
×
Berita Lain