Syarat & ketentuan |Pedoman |Redaksi |Kontak Kami
Mengenang 28 Oktober 1928
Cerita Muhammad Yamin dari Sejarah Kongres Pemuda
Senin, 28 Oktober 2013 02:24 WIB

RANAHBERITA--28 Oktober 1928, hari dimana cita-cita para pemuda se-nusantara sejak dua tahun sebelulnya, terwujud. Di sebuah bangunan di jalan Kramat Raya 106, para pemuda mengikrarkan janji: Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa; Indonesia.

Jelang lahirnya trilogi dalam konsep bernama Sumpah Pemuda tersebut, Indonesia hari ini adalah, sebuah bangsa yang bertebaran, termasuk urusan ide-ide dan pemikiran. 

Adalah Muhammad Yamin, pemuda berdarah Minang kelahiran Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat yang ikut berperan besar dalam kerapatan pemuda-pemudi tersebut.

Tanpa menafikan peran pemuda yang terlibat dalam Kongres Pemuda II itu, Yamin menunjukan kiprahnya.

Rumusan Sumpah Pemuda dengan trilogi; Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa: Indonesia, adalah buah pikir Yamin.

Sebetulnya, jika tak memandang soal independensi, Yamin dikehendaki untuk memimpin kongres tersebut. Namun karena ia berasal dari Jong Sumatranen Bond, maka pilihan jatuh pada Sugondo Djojopuspito sebagai ketua. Sugondo berasal dari Persatuan Pemuda Indonesia (PPI), yang dianggap netral, tanpa membawa nama kesukuan. 

Buah pikir Yamin yang digores dalam secarik kertas, disetujui oleh Sugondo. Ia memparaf, lalu menyampaikan kepada semua peserta, bahwa Kongres Pemuda II melahirkan Sumpah Pemuda dengan bunyi, Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa: Indonesia.

Menurut sejarawan dari Universitas Andalas Gusti Asnan, Minggu (28/10/2013), ide Yamin disetujui oleh pemuda lainnya karena mencerminkan seluruh inti dari ide, keinginan, dan cita-cita para pemuda Indonesia masa itu. 

Konsep itu dikenal sebagai "Ikrar Pemoeda". 

Sri Sutjianingsih dalam Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional Indonesia (1999) menulis, rumusan Sumpah Pemuda waktu itu ditulis Yamin pada secarik kertas ketika Mr Sunario, sebagai utusan kepanduan tengah berpidato pada sesi terakhir kongres. 

Sebagai sekretaris, Yamin yang duduk di sebelah ketua, menyodorkan secarik kertas kepada Soegondo sembari berbisik, "Saya punya rumusan resolusi yang lebih luwes." 

Sumpah itu berbunyi: 

Kami putera dan puteri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.

Kami putera dan puteri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia. Kami putera dan puteri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.

Sumpah tersebut awalnya dibacakan oleh Soegondo dan kemudian dijelaskan panjang-lebar oleh Yamin. 

Setelah disahkan, ikrar pemuda itu pun menjadi tonggak bersatunya bangsa Indonesia. 

"Dalam imajinasi Yamin waktu itu, perlu ada sebuah bangsa yang besar layaknya Sriwijaya dan Majapahit. Bangsa besar yang mampu membingkai sekaligus merekat seluruh insan yang berasal dari suku dan agama yang berbeda-beda, dengan teritorial yang sangat luas," kata Gusti kepada ranahberita.com.

Gusti menambahkan, di Kongres Pemuda I, Yamin sebenarnya sudah mulai mengusulkan perlunya bahasa persatuan. Pada waktu itu Yamin mengusulkan Bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan Indonesia. 

Namun, jelas Gusti, ide itu tak langsung bisa diterima, karena Mohammad Tabrani sebagai Ketua Kongres Pemuda I, sedikit menolak dengan alasan, jika disebut bangsa Indonesia, bahasanya pun harus disebut Bahasa Indonesia, bukan bahasa Melayu. 

Baru pada kongres pemuda II di tahun 1928, bahasa melayu yang kemudian disebut sebagai bahasa Indonesia, disepakati menjadi bahasa persatuan oleh para pemuda. (Edo|Ed1|ed3)


Komentar
Jpang | Senin, 4 November 2013 11:59 WIB

Catatan panjang Yamin tentang proses diskusi perumusan UUD 45 tertuang dalam 3 seri buku tebal (hard cover bewarna merah) menjadi satu-satunya pegangan yang mengantarkan saya pada kejadian-kejadian dan proses diskusi alot masa perjuangan itu. Kini, catatan itu hanya menjadi buku lusuh di perpustakaan, atau kalau beruntung dapat ditemukan di toko buku loakan. Ada baiknya politikus (dan calon politikus, serta siapa saja yang cinta negeri ini) memaknai catatan-catatan Yamin itu kembali. Pencarian saya atas ketiga jilid buku itu memakan waktu lebih dari 4 tahun. Jilid 1 dan 3 saya dapat dari toko buku loak di Padang Teater sekitar tahun 1999, sementara jilid 3 baru saya dapatkan dari seorang kolektor (Hidayat Rahz, kabarnya sekarang beliau bermukim di Argentina) pada 2003. Lewat buku itu, Yamin seolah ingin mengantarkan saya pada sidang-sidang yang berlangsung panas serta percakapan-percakapan kritis, tentunya untuk satu tujuan: Meletakkan negara ini pada satu landasan yang kokoh. Pertanyaannya, sekokoh apa landasan negara ini (baca: Indonesia) hari ini? adakah sekokoh yang dicitakan oleh Syahrir? Hatta? Tan Malaka? Yamin? dan siapa saja yang terlibat dalam pergumulan pergerakan nasional masa itu.

Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama:
Email:
Komentar:
×
Berita Lain