Syarat & ketentuan |Pedoman |Redaksi |Kontak Kami
Seni Budaya
Reinventing Minangkabau Karya A. Arifin Dipamerkan di Padang Panjang
Kamis, 31 Oktober 2013 13:50 WIB

RANAHBERITA--Rumah Budaya Fadli Zon yang berada di Nagari Aie Angek, Kabupaten Tanah Datar menggelar pameran lukisan tunggal karya perupa A. Arifin bertajuk 'Reinventing Minangkabau', Rabu(30/10/2013).

"Pameran ini untuk mengangkat potensi perupa Sumatera barat di tingkat nasional maupun internasional," kata Pendiri Rumah Budaya Fadli Zon.

Pameran tersebut menampilkan sekitar 40 lukisan beraliran Mooi Indie (Hindia Molek) karya perupa A. Arifin. Fadli Zon mengatakan, dalam sejarah seni rupa di Tanah Air, ada aliran Mooi Indie (Hindia Molek) yang ditempatkan sebagai warisan kolonial. Lukisan tentang alam yang indah, damai, harmonis dan romantik merupakan kreasi penjajah.

“Mooi Indie diawali lukisan-lukisan Raden Saleh (1814-1880) yang terpengaruh Eugene Delacroix, pelopor aliran romantisme Perancis. Setelah Raden Saleh ada Mas Pirngadie, Abdullah Soejosoebroto, Basuki Abdullah dan tentu saja Wakidi di Sumatera Barat,” ujar.

Fadli Zon yang juga kolektor lukisan-lukisan karya perupa ternama Indonesia. Diungkapkannya, lukisan-lukisan dengan aliran Mooi Indie tetap diminati di Indonesia. Landscape yang indah, gunung-gunung menjulang, bukit berbaris, hamparan sawah, kerbau mandi di kubangan, lapau dan perkampungan khas Minang tetap menjadi obyek lukisan yang menarik.

“Dalam lukisan Mooi Indie, selalu terkenang gunung dan bukit yang mengelilingi, penduduknya yang suka bergotong royong, susah dan senang dirasakan bersama. Inilah Mooi Minang, kemolekan Minang. Selalu ada romantisme,” papar Fadli Zon.

Sementara menurut Kurator Dio Pamola, beberapa tahun terakhir, karya A. Arifin sempat tidak muncul di ruang pameran dengan beberapa penyebab. Meskipun tidak berpameran, studio A. Arifin tetap dipenuhi aroma cat minyak yang cukup menyengat hidung.

“Proses melukis dilakukannya setiap hari, siang dan malam untuk menyalurkan energi dan hasrat yang kuat atas imajinasinya. Arifin tidak hilang namun masih bereaksi di studio dalam komunikasi dengan media seninya,” katanya.

Dio menyebutkan, nama A.Arifin sangat kuat melekat di kalangan seni rupa di Sumatera Barat. Pengaruh Arifin bisa dilacak. Sosok seniman ini sangat menginspirasi kalangan seniman, baik secara edukatif akademik maupun inspiratif secara kekaryaan.

“Gagasan yang ditampilkan secara visual oleh Arifin, melihat kecenderungannya memiliki ruh romantisme yakni aliran seni yang tidak berurusan sama sekali dengan suatu corak, sebab kepentingannya hanya dengan sikap batin yang melandasi suatu karya dan bisa diproyeksikan pada segala macam gaya,” tambah Dio Pamola.

Sementara itu, Direktur Rumah Budaya Fadli Zon, Elvia Desita mengatakan, di Rumah Budaya telah beberapa kali diadakan pameran lukisan, baik tunggal dan bersama. Kali ini Rumah Budaya memamerkan secara tunggal karya-karya perupa A. Arifin.

Elvia menjelaskan, Rumah Budaya Fadli Zon diresmikan pada 4 Juni 2011 dengan cita-cita Fadli Zon untuk menjadikan Sumatera Barat sebagai "kantong budaya". Terdapat setidaknya lebih dari 100 keris Minangkabau yang dikumpulkan dari berbagai daerah di Sumatera Barat selama bertahun-tahun yang akhirnya dipajang di Rumah Budaya Fadli Zon.

Pameran itu dihadiri seratusan seniman, budayawan, peminat seni lukis, mahasiswa, guru dan pelajar di Sumatera Barat. Pameran dikuratori Dio Pamola, kurator asal Kota Yogyakarta, dan dibuka secara resmi oleh Budayawan dan Kolektor Seni Rupa E.Z. Halim. (Ant/ed11)


Komentar

Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama:
Email:
Komentar:
×
Berita Lain