Syarat & ketentuan |Pedoman |Redaksi |Kontak Kami
Peringatan 1 Muharam 1435 Hijriah
Perpaduan Budaya Jawa dan Minangkabau Dalam Grebeg Suro di Sawahlunto
Senin, 04 November 2013 00:24 WIB

RANAHBERITA- Apa yang anda pikirkan ketika mendengar kata Sawahlunto? Bagi kebanyakan orang, Sawahlunto barangkali berarti sebuah daerah dengan kekayaan batu bara yang melimpah. Soal kekayaan alam batu bara kota tua ini, bahkan sudah terkenal hingga ke berbagai penjuru dunia sejak zaman Belanda.

Kandungan batu bara yang tinggi di kawasan itulah barangkali yang menarik minat kolonial Belanda untuk membangun berbagai fasilitas dengan tujuan memudahkan mereka dalam mengekploitasi kekayaan alam Sawahlunto. Hingga kini, sejumlah fasilitas pertambangan seperti gudang ransum dan pabrik pengolah batu bara peninggalan kolonial masih bisa ditemui di daerah tersebut. Bahkan, pemerintah kolonial juga mendirikan pemukiman khusus untuk warga Belanda dengan bangunan bergaya khas negeri kincir angin itu.

Selain membawa pekerja langsung dari Belanda, pemerintah kolonial juga membawa pekerja dari daerah lain. Pekerja yang kemudian lebih dikenal sebagai ‘orang rantai’ tersebut mayoritas berasal dari suku Jawa. Hingga Indonesia merdeka dan kolonial Belanda angkat kaki dari tanah air, sebagian besar ‘orang rantai’ tersebut tetap bertahan di Sawahlunto dan berbaur dengan komunitas setempat.

Saat ini, keturunan orang rantai (termasuk dari suku lain non Jawa) terus berkembang dan hidup dalam budaya multi etnis di Sawahlunto. Itulah sebabnya, selain budaya Minang, kita bisa saja menemui kegiatan budaya dari daerah lain di Sawahlunto, seperti budaya Jawa, Batak, Bugis dan lainnya.

Grebeg Suro, Tradisi Menyambut 1 Muharram Etnis Jawa di Sawahlunto

Untuk menyambut datangnya 1 Muharram, komunitas keturunan suku Jawa di Sawahlunto menggelar acara ‘grebeg suro’ yang dikemas dalam bentuk pawai budaya. Berbeda dengan grebeg suro di daerah lain, acara di Sawahlunto ini mencoba memadukan kekayaan budaya Jawa dengan kekhasan budaya Minangkabau.

Perpaduan dua kebudayaan itu antara lain terlihat dari dikenakannya pakaian tradisional Minangkabau pada sepasang ondel-ondel yang diarak dalam pawai budaya, Selasa (5/11/2013).

Ondel-ondel ini diarak sepanjang Kota Sawahlunto yang dimulai dari Kantor Camat Lembah Segar melewati Pasar, Lapangan Segitiga dan berakhir di Lapangan Silo. Ondel-ondel berpakaian tradisional masyarakat Minang ini diarak bersama nasi tumpeng setinggi satu meter dan gunungan buah setinggi tiga meter.

“Selain untuk beribadah, kegiatan ini dimaksudkan untuk mengembangkan pariwisata Kota Sawahlunto. Ondel-ondel berkostum tradisional Minang tersebut untuk menghargai keberagaman masyarakat yang ada di Kota ini,” kata Iwan, Ketua Paguyuban Ki Sapu Jagad yang menggelar kegiatan tersebut kepada ranahberita.com.

Menurut Iwan, paguyuban Ki Sapu Jagad tidak hanya beranggotakan keturunan Jawa, tapi juga tergabung di dalamnya masyarakat Minangkabau. Dalam menggelar pawai itu, masyarakat keturunan berbagai etnis berkumpul. Pawai diramaikan juga oleh pasar jajanan tradisional dan penampilan kesenian tradisional.

“Kita sangat mendukung kegiatan budaya di Sawahlunto. Kekayaan budaya menjadi pendukung pariwisata kita. Kita hidup dalam berbagai etnis. Dan kekayaan budaya dan etnis ini harus kita jaga baik-baik,” kata Walikota Sawahlunto Ali Yusuf dalam sambutannya. (Raju Arafah)


Komentar

Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama:
Email:
Komentar:
×
Berita Lain