Syarat & ketentuan |Pedoman |Redaksi |Kontak Kami
Sejarah
344 Tahun Kota Padang, Sejarah Serangan Anak Pauh dan Koto Tangah
Rabu, 7 Agustus 2013 14:10 WIB

RANAHBERITA--Hari ini, Rabu (7/8/2013), adalah ulang tahun ke-344 Kota Padang, Sumatera Barat. Tak ada perayaan berarti dan monumental untuk sekedar mengingatkan warga kota bahwa ini adalah hari istimewa.

Di seantero kota yang terasa hanya gema demokrasi ketika ‘sampah visual’ dari kandidat terus menghegomeni, merusak estetika kota. Spanduk berisi ucapan selamat ulang tahun Kota Padang sudah sedikit, juga ‘malu-malu’ tampil di beberapa instanti pemerintahan.

Dan mungkin H-1 lebaran sedikit banyaknya juga berpengaruh. Sebab, ‘kita’ (warga kota) mungkin lebih memikirkan hari esok, dimana dikatakan sebagai hari kemenangan setelah berpuasa selama 30 hari.

Memorilibilia tentang berdirinya sebuah kota seringkali diacuhkan, sebab menganggap kemajuan itu adalah bergerak ke depan, lurus, dan jangan berpaling ke belakang.

Ini adalah sebuah kesalahan, sebab tanpa melirik ke belakang, mengkaji asal usul, bagaimana mungkin bisa menyiasati kemungkinan-kemungkinan yang terjadi ke depannya.

Ranahberita.com, mencoba mengisi ruang yang seringkali diabaikan itu. Ulang tahun Padang yang jatuh pada hari ini, seperti diramu dari berbagai sumber, bermula dari serangan orang-orang Koto Tangah dan Pauh ke benteng Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), badan dagang Belanda di pinggir Muaro Padang.

Freek Colimbijn dalam buku Paco-Paco (Kota) Padang, menuliskan, tanggal 7 Agustus 1669, kekuatan Koto Tangah dan Pauh membakar benteng VOC. Peristiwa tersebut kemudian dijadikan tanggal berdirinya Padang. 

Sebelumnya, Belanda sudah menjadikan Padang sebagai markas besar di pantai barat Sumatera sejak tahun 1666, setelah sebelumnya menyingkirkan pedagang Aceh pada tahun 1664.

Freek juga menuliskan, supaya aman dari gangguan musuh terutama pribumi, Belanda menawarkan kekuasaan pemerintahan kepada Raja Minangkabau. Sementara, untuk urusan perdagangan Belanda yang mengatur melalui gubernur yang ditunjuk.

Meski akhirnya, Raja Minangkabau mengesahkan kedudukan Belanda di Padang, namun berkali-kali orang-orang dari Koto Tangah dan Pauh dengan bantuan Aceh, menyerang pos perdagangan Belanda di kawasan pelabuhan Batang Arau.

 “Terlepas dari kekuasaan Raja Minangkabau dan pedagang perantara yang berasal dari pesisir, secara de facto Padang tetap berada ditangan penjajah asing hingga kemerdekaan,” tulis Freek.

Hingga kemerdekaan, sebetulnya Belanda tak selalu menguasai Padang. Tahun 1781, dengan mengirim lima kapal saja, Inggris berhasil menguasai Padang. Kekuasaan ini berlangsung hingga 1784, seiring adanya Perjanjian Damai Paris, yang mengharuskan Inggris mengembalikaan wilayah jajahan Belanda.

Selanjutnya, VOC harus menyerahkan Padang ke Prancis tahun 1793, berhubung Prancis menduduki negeri Belanda. Seorang perompak Prancis tersohor, Francois Le Meme, menaklukan Padang tanpa perlawanan.

Namun, dampak perkembangan politik Eropa yang dinamis, mengakibatkan Padang diambil alih lagi oleh Inggris. Dan mengembalikan lagi ke Belanda tahun 1814, seiring berdirinya Kerajaan Belanda yang baru.

Freek menuliskan, pada 22 Mei 1819, bala tentara Belanda yang tidak bisa dikumpulkan lebih awal, mendarat di Padang. Sejak saat itu, Kota Padang tak hanya dijadikan sebagai pos perdagangan, tapi juga daerah jajahan yang dikelola oleh pemerintah Belanda, bukan lagi VOC.

Hal ini berlangsung hingga kedatangan Jepang awal Februari 1942.

Mungkin, semangat perlawanan dari masyarakat Pauh dan Koto Tangah tanpa (disengaja) menjadi titik penting bagi penaggalan penting berdirinya Kota Padang, tapi ketika tak ada apresiasi dan simbolitas yang tegas, jelas akan semakin mangaburkan, mungkin mengubur sejarah penting itu. (Chende)

Berita terkait:

Ketika Padang Dikuasai 3 Bangsa Eropa

Belanda Mencaplok Padang, Kisah Blunder Pedagang Pesisir Minang

Padang Kota Lama, Tata Ruang Berbasis Rasialisme


Komentar

Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama:
Email:
Komentar:
×
Berita Lain